Corporate Inertia

Saya agak ragu-ragu menulis tentang ini, karena sebenarnya istilah “corporate inertia” ini diambil dari istilah Bapak Yuswohady dan saya mencoba menjabarkan istilah ini dengan sudut pandang saya. niat menulis ini karena saya mendapat BBM dari seorang teman yang bekerja disebuah perusahaan terkenal di Indonesia. beliau bertanya tentang corporate Inertia, setelah saya jelaskan tentang itu beliau terus bicara kepada saya bahwa perusahaannya sedang mengalami itu  (Dalam hati saya: sudah saya duga). mari coba kita mencoba mencari sumber dan mencoba mencari solusi untuk perusahaan itu.

Corporate Inertia itu apa?  yaitu terkungkung pada bisnis model yang telah membuatnya berjaya.

Ya perusahaan terkenal itu sudah terjangkiti penyakit ini, penjualan menurun, banyak karyawan yang mengundurkan diri dari perusahaan dan kondisi perusahaan yang tidak kondusif.

Sumber masalah itu kalo pengamatan saya adalah sbb:

1. Distribusi produk yang tidak  merata: hal ini disebabkan karena personal-personal (karyawan)yang ada di perusahaan ini kurang termotivasi, sehingga mereka malas dalam mendistribusikan produk dan memasarkan produk nya. sehingga banyak channel yang terisi oleh produk-produk lain (baca: kompetitor)

2.Pasar yang sudah berubah: dimana di era web.2.0 ini konsumen sudah semakin cerdas, mereka lebih bisa memilih produk yang mana disukai dan dibutuhkan oleh mereka, tidak bisa dipungkiri di media internet kita seperti melihat pameran produk secara massal yang tiap detik tampil di depan mata kita, dan hal ini membuat potensi untuk brand switching sangat mudah terjadi.

3. Kurangnya SDM yang handal dimasing-masing posisi vital: di Perusahaan ini untuk pos – pos vital khususnya di departemen penjualan masih diisi oleh orang-orang yang berpikiran kuno dan kolot, di sebuah perusahaan berskala nasional seorang area manager tidak mahir dalam mengoperasikan perangkat komputer (microsoft office), ini hal yang mencengangkan buat saya. jadi menurut saya perombakan kualitas karyawan juga perlu dilakukan disini.

4. Management yang masih menganut pola Legacy: Perusahaan ini masih mengedepankan pola-pola dan strategy Marketing kuno, secara struktural memang sudah menggunakan element baru dalam struktur organisasinya tapi cara menggunakannya masih dengan cara kuno.

 

Langkah-Langkah penanggulangannya:

1. Menguatkan Komunikasi antar karyawan yaitu dengan membangun divisi khusus yaitu Internal Marketing : dimana dengan adanya internal marketing maka komunikasi antar divisi berjalan dengan baik dan timbulah kompetisi yang sehat antar departemen, dan dengan Program-program Internal Marketing dapat memotivasi setiap karyawan untuk loyal terhadap perusahaan, apabila terjadi krisis dalam sebuah perusahaan itu. jadi dengan Internal Marketing ini karyawan akan termotivasi dalam bekerja dan ini akan memberikan dampak karyawan di masing-masing Lini bekerja dengan antusias sehingga diharapkan dapat mengatasi distribusi produk yang tidak merata dan selalu belajar untuk dapat mengikuti Pasar yang dinamis perubahannya.

2. Membentuk sebuah Manajemen yang ter integrated dengan pola-pola baru web 2.0 yaitu komunikasi antar karyawan secara horisontal:  karena pada dasarnya perusahaan yang terkena penyakit “Corporate Inertia” ini adalah perusahaan yang berusia cukup lama, sehingga ada 2 Generasi yang berada dalam management itu, sehingga saya jamin akan sering terjadi “war in the board room” dimana kaum muda akan terus berbeda pendapat dengan generasi tua.  seperti kata bung Karno ” 1000 manusia tua tidak dapat mengubah dunia, tapi 1 anak muda dapat mengubah negara ini” sehingga kesimpulannya bahwa sifat untuk selalu dihormati orang-orang tua dalam sebuah organisasi atau manajemen itu harus dihilangkan. agar kaum muda juga dapat didengar pendapatnya.

Nah itu beberapa langkah -langkah yang pertama untuk menanggulangi masalah yang terjadi dalam perusahaan teman saya, mungkin banyak cara atau model lain dalam penanggulangannya. sehingga saya sangat terbuka untuk menerima saran, kritik yang dapat disampaikan dalam kotak komentar ini….

Tidak ada yang ASLI tanpa ada yang PALSU

 

2 Komentar (+add yours?)

  1. Adri Ponsen
    Mar 02, 2011 @ 13:32:01

    Menarik sekali tulisan yg berjudul,”Corporate Inertia” ini, saya jadi ingat sebuah pengalaman yang cukup ‘menggelikan’ ketika proses sebuah pitching kampanye ‘rebranding’ sebuah mega developer belum terlalu lama.

    Dalam tulisan ini, Agung mengidentifikasikan ‘Corporate Inertia’ sebagai sebuah karakter dari yang menjalankan perusahaan tersebut. Stagnan, kaku dan konservatif adalah kata-kata kunci dalam pendeskripsikan perusahaan ini.

    Pengalaman saya ketika itu adalah sebenarnya adalah bagaimana para CEO mendefinisikan pemasaran itu sama dengan penjualan. Pemasaran yang dapat ‘menjual’itulah yang akan dibeli dan diimplementasikan dalam menjual produk mereka. Itu kegelian yg pertama.

    Kedua, proses rebranding adalah bukan proses yg berkaitan dgn permasalahan eye candy subjektif dari bentuk estetika semata, namun lebih kepada bagaimana sebuah brand tersebut telah mencapai sebuah titik datar dalam nilai-nilai yg dikandungnya. Menurut mereka, karena mereka adalah manajemen pengelola baru maka diperlukan sebuah rebranding baru agar menjadi sosok ‘baru’ di mata calon konsumen baru. Kegelian kedua yg akhirnya menjd tanggung jawab saya utk meluruskan.

    Ketiga, setiap proses memerlukan sebuah observasi dan menekan kata kunci ke mesin pencari waktu Google mnrt saya adalah langkah paling mudah utk melihat bagaimana produk ini di mata manusia virtual, yang saling beropini dalam ranah virtual. Hal yang paling memalukan adalah komentar2 negatif mengenai servis dr pengelola lama mendominasi halaman pertama. Sehingga online reputation management lah yang harus dibereskan. Menurut mereka itu bukan hal yg penting krn itu bukan contact point utama utk menemukan produk mereka.

    Dalam horizontal pemasaran, mereka ternyata buta dengan paham Word of Mouth, Buzz dan masih mengandalkan tenaga wanita berparas cantik utk mencapai target bulanan penjualan.

    Kalau sudah begini, apakah saya harus bersikap geli sendiri, iba atau menjadi yes men demi sebuah income perusahaan? Anda nilai sendiri

    Balas

  2. Baldwin Gaston
    Jun 01, 2011 @ 14:20:00

    Ketiga, setiap proses memerlukan sebuah observasi dan menekan kata kunci ke mesin pencari waktu Google mnrt saya adalah langkah paling mudah utk melihat bagaimana produk ini di mata manusia virtual, yang saling beropini dalam ranah virtual. Hal yang paling memalukan adalah komentar2 negatif mengenai servis dr pengelola lama mendominasi halaman pertama. Sehingga online reputation management lah yang harus dibereskan. Menurut mereka itu bukan hal yg penting krn itu bukan contact point utama utk menemukan produk mereka.
    +1

    Balas

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.