Hari ini saya berbincang dengan temen lama saya yang sudah lama tidak bertemu, banyak obrolan yang kita obrolkan mulai keluarga,teman-teman dan pekerjaan. Akhirnya topik pekerjaan yang menarik untuk di obrolkan, karena temen saya itu adalah pakar analisa di sebuah perusahaan terkenal.
Akhirnya kita membahas sebuah brand sebuah produk.Brand yang bagus adalah brand yang mempunyai Identity,karena brand yang sudah ber identity itu lebih mudah untuk men fokus kan strategi marketing nya,tapi yan menjadi kendala adalah strategi itu harus relevan dengan kondisi pasar karena era yang sudah mulai berubah.
Menurut saya Brand Identity tidak slh tetapi sebagai tahpan menuju brand yang berkarakter.Brand yang berkarakter menurut saya lebih relevan di era web 2.0 ini karena Indentity yang kita komunikasikan secara terus menerus akan menjadi karakter, dan karakter ini yang membuat konsumen menyukai kita atau mungkin menjadi bagian dari kehidupan mereka. Jadi intinya saat kita membangun sebuah brand yang kuat langkah yang di ambil adalah membentuk identitas Brand itu sendiri setelah terbentuk kita tingkatkan menjadi Karakter dan karakter itu membentuk DNA yang unik yang benar – benar di sukai khalayak Umum atau Konsumen.
Mungkin hanya ini tulisan yang saya sharing kepada anda semua dari hasil obrolan dengan sahabat lama saya…….
Tidak ada yang ASLI tanpa ada yang PALSU…


Jan 16, 2010 @ 06:05:31
Wah sebuah lemparan diskus yang menarik neyh?
Pertanyaan yang muncul selanutnya adalah bagaimana kita dapat membangun DNA sebuah brand? sehingga brand tersebut nantinya dapat diterima oleh masyarakat?
Beberapa Brand memang terlahir dengan identitas brand yang melekat sangat kuat pada dirinya, namun persoalan kritis yang dihadapi oleh para marketers saat ini adalah, pada umumnya mereka tahu benar pentingnya DNA pada branding development, tapi lihat saja realitas dari munculnya ribuan produk-produk baru di Indonesia (entah apapun jenis produknya) kebanyakan dari mereka hanya muncul karena sebatas mengikuti trand saja kan, yang mana akhirnya ketika trend tersebut mulai luntur dari perubahan gaya hidup masyarakat, maka produk tersebut akhirnya harus menemui ajalnya pula.
Lain halnya kasus-kasus seperti Harley Davidson, Poligon, Marcedes Benz, Volks Wagen, Levis, dan Coca-cola. Mereka dapat terus bertahan dan beretengger diatas dalam produk-produk global. Dan Kasus itulah yang seharusnya dipecahkan dalam pengimplementasian brand development.
Coba tengok bagaimana Harley Davidson dapat tumbuh menjadi brand yang memiliki begitu banyak pengikut di dunia, sejak pertama kali di kenalkan Harley Davidson merupakan hasil dari sebuah revolusi industri yang terjadi di Dunia. Ketika Industri mesin-mesin otomotif mulai menggantikan tenaga alam (Manusia/Binatang). Pada awalnya Harley dan Davidson melihatnya sebagai sebuah ide untuk mengembangkan perahu bertenaga mesin, namun siapa sangka setelah mereka membaca beberapa majalah teknik, ide mereka justru tertuangkan dalam sebuah sepeda. Inilah yang menjadi cikal bapak motor besar di seluruh Dunia.
Perhelatan Harley Davidson dalam pemasarannya mulai terlihat ketika perusahaan ini pindah ke AS, yup AS sebagai surga kapitalis telah memaksa mereka untuk berfikir kritis dan cemerlang. Dengan melihat budaya masyarakat koboi AS, Harley Davidson mulai menempatkan dirinya dalam kehidupan masyarakt AS.
Kuda yang gagah dan dapat berlari kencang merupakan simbol identik dari para koboi, dianggap sudah mulai tidak relevan lagi pasca revolusi industri, kedahsyatan mesin-mesin atau bisa dibilang tunggangan sejati para koboi ini terbukti ketika perang dunia ke II, motor – motor HD berhasil menundukkan medan-medan berat di Eropa. Bahkan HD mendapatkan medali E dari Angkatan Laut Amerika (US Marine). Kegagahan HD inilah yang sekembalinya dari Perang Dunia menjadikan simbol sebagai keperkasaan para koboi (prajurit sekutu di Perang Dunia ke II), dan terus menjadi kebanggan masyarakat AS yang kemudian menular ke seluruh Dunia.
Usai perang, Harley-Davidson kembali membuka keran produksi sipilnya. Eh, ternyata banyak veteran perang yang kepincut performa motor itu, dan ingin mengembalikan romantisme mengendarai Harley-Davidson. Ribuan unit Harley-Davidson, baik produksi sesudah perang maupun model lama, berpindah ke rumah para veteran, cikal bakal penggemar fanatik Harley-Davidson.
Tahun 1950-1960 juga ditandai dengan hadirnya komunitas bikers, yang memperkenalkan budaya pengendara motor. Mereka gampang dikenali karena menggunakan jaket kulit, penuh tato, dan berambut panjang. Citra Wild Ones ini diperkenalkan Marlon Brando lewat film berjudul sama.
Komunitas resmi Harley-Davidson sendiri baru didirikan pada 1983, dengan nama Harley Owner Group (HOG). Ini menjadi komunitas pemilik Harley-Davidson terbesar yang disokong langsung oleh produsen. Saat ini, jumlah anggota HOG mendekati satu juta orang di seluruh dunia. Siapa yang berani melawan keperkasaan Branding HD dan para pengikutnya ini?
Sama halnya dengan Volks Wagen di Jerman, Volks Wagen yang berarti Mobil Rakyat secara sukses meraih hati rakyat Jerman ketika Hitler berkuasa, dengan kampanye politiknya Hitler seringkali membanggakan mobil ini sebagai karya terbesar rakyat Jerman dan untuk rakyat Jerman. Dengan begitu siapa yang tidak bangga mengendarai mobil VW, walaupun Hitler telah jatuh, VW tetap identik sebagai mobil rakyat.
Begitu juga halnya dengan levis, pada saat AS belum memerdekan diri, serta perbudakan terjadi hampir diseantero penjuru AS. Para Budak – budak tersebut selalu di identikkan dengan selalu memakai celana yang kumal tapi terkenal tahan banting. ya itulah jeans levis yang selalu dipakai oleh para budak di AS, dan juga para koboi AS dalam memburu para Indian.
Dari beberapa kasus brand-brand besar dunia diatas dapat kita lihat secara jelas, bagaimana sebuah brand tersebut dapat diterima oleh masyarakat, tidak lain adalah karena brand-brand tersebut sangat lekat dengan sebuah budaya masyarakat dan telah menjadi simbol yang hidup bersama dalam masyarakat tersebut (semoitik). Maka tak heran rasanya bila Brand-brand tersebut dapat terus hidup menghadapi segala macam arus perubahan.
Untuk Kasus Coca-cola,,,,, inilah yang harus dijawab oleh kalian para marketers handal dalam menghadapi kompetisi di pasar food beverage ataupun ready to drink
Feb 10, 2010 @ 16:45:21
Mas Ucup mantap tulisannya…………siiip semoga kita bisa menjadi partner ya…:)